Harmiano Bloggers

Jumat, 23 Maret 2012

Permasalah Seputar Teknologi Informasi

Bank Mega: Ada Sindikat Serius Dibalik Pembobolan Bank
Selasa, 10 Mei 2011 18:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Bank Mega meyakini adanya sindikat pembobol bank yang beroperasi di Tanah Air. Karena itu bank meminta pihak berwenang diharapkan segera mengungkap dan menindak pelakunya sehingga tidak jatuh korban berikutnya.

"Bank Mega segera melaporkan kasus yang terjadi kepada pihak berwajib sehingga diharapkan segera ada tindakan terhadap sindikat itu," kata Managing Director Risk Management and Compliance Bank Mega, Suwartini, dihubungi di Jakarta, Selasa (10/5).

Ia menyebutkan, keterlibatan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka Cikarang Bekasi Jawa Barat untuk dua kasus yang berbeda menguatkan indikasi adanya sindikat pembobol bank di Indonesia.

Menurut dia, kasus dana PT Elnusa dan korupsi dana milik Pemerintah Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, jelas-jelas merupakan kasus yang berbeda namun kedua kasus itu sama-sama melibatkan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka Cikarang.

"Pelakunya sudah menyebar ke mana-mana termasuk ke daerah-daerah, makanya kita melaporkan kepada pihak berwenang agar bank dan nasabah lainnya tidak menjadi korban berikutnya," kata Suwartini.

Ia menyebutkan, terhadap karyawan Bank Mega yang terlibat kasus itu, Bank Mega telah melakukan pemutusan hubungan kerja sehingga pihak berwajib dapat melakukan tindakan yang diperlukan.

Selanjutnya Suwartini menyarankan kepada nasabah bank agar meningkatkan kehati-hatian dan tidak percaya begitu saja dengan orang lain. "Jangan percaya begitu saja sehingga mau menandatangani blanko kosong," katanya.

Menurut dia, nasabah juga harus lebih aktif mengecek saldo rekeningnya di bank dan segera melaporkan kepada pihak bank jika ada perubahan yang mencurigakan.

Menurut Suwartini, pelaku pembobolan dana simpanan pada Bank Mega adalah sindikat yang sama dengan sindikat yang telah lebih dahulu membobol bank-bank lain. Sindikat tersebut selalu bekerja sama dengan orang dalam bank bersangkutan dan orang yang memiliki kewenangan atas dana tersebut.

"Jadi sindikat tersebut selalu melibatkan orang-orang yang memiliki kewenangan untuk memindahbukukan atau menarik dana simpanan, baik dari pihak nasabah maupun orang dalam bank. Karenanya saat ini, Bank Mega menjadi korban dari sindikat pembobolan bank itu," katanya.

Ia mengatakan, pelaku sangat lihai karena mereka mampu membangun jaringan dan melakukan mekanisme kerja sedemikian rupa sehingga orang yang menjadi otak sindikat itu selalu bisa lolos dari jerat hukum.

"Jadi selama ini yang dapat dijerat dan ditangkap oleh aparat penegak hukum umumnya adalah orang dalam bank dan orang yang menempatkan dana di bank sebagai bagian dari sindikat itu," katanya.

Suwartini menegaskan pihaknya sengaja mengambil inisiatif melaporkan dan membuka dua kasus pembobolan dana deposito di Bank Mega Cabang Jababeka itu kepada Polri dengan harapan terbukanya kasus pembobolan deposito milik PT Elnusa maupun Pemerintah Kabupaten Batubara, maka kasus itu dapat diketahui masyarakat luas.

"Sekarang ini kami memang harus menelan pil pahit karena dengan melaporkan ke polisi maka kasus diketahui masyarakat luas. Namun kami berharap kasus ini bisa dibongkar tuntas sehingga perbankan di masa depan bisa terbebas dari sindikat-sindikat semacam ini," katanya.

Sekretaris Perusahaan Bank Mega Gatot Aris Munandar menjelaskan, setelah terungkapnya kasus pembobolan dana deposito Elnusa maka pihaknya langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap transaksi-transaksi yang mencurigakan.

Atas hasil pemeriksaan itu, Bank Mega menemukan transaksi keuangan dari Pemkab Batubara yang ditempatkan di "deposit on call" senilai Rp80 miliar. Sehubungan dengan itu, Bank Mega sudah melaporkan masalah ini ke Bank Indonesia dan Polri untuk segera ditindaklanjuti.

Sumber : REPUBLIKA

Permasalahan IT

Garuda Targetkan Investigasi Kekacuan Sistem Selesai Dalam Tiga Hari
Jumat, 26 November 2010 05:56 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--PT Garuda Indonesia menyatakan pihaknya akan melakukan investigasi dari adanya masalah teknis dari kekacauan sistem operasional yang berimbas pada pembatalan penerbangan selama tiga hari.

"Ada kesalahan teknis yang membuat sistem teknologi informasi integrated operational control system (IOCS)nya tidak berjalan normal, makanya, kita akan melakukan investigasi di internal apakah memang ada kesalahan sistem atau human error," kata Direktur Pengembangan dan IT, PT Garuda Indonesia, Elisa Lumbantoruan tuturnya kepada wartawan usai RDP dengan Komisi V DPR RI, di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (25/11).

Menurut Elisa, jika nantinya hasil temuan tim investigasi mengarah ke human error pihaknya akan memberikan sanksi tegas kepada petugas yang bersangkutan.Elisa mengungkapkan, akibat adanya kerusakan IOCS itu mengakibatkan data tidak sinkron dan tidak dapat diakses selama empat jam. "Secara otomatis, pergerakan jadwal awak pesawat dan pesawat pun tidak tercatat sehingga operasional menjadi kacau," paparnya.

Namun, Elisa mengungkapkan, saat ini jadwal penerbangan telah kembali normal. Ditambah lagi, lanjut dia, dengan penerapan sistem IOCS itu ke depannya, frekuensi penerbangan domestik Garuda akan meningkat lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2015. "Tahun 2010 Garuda melayani 1333 penerbangan perminggunya, dan diprediksi pada tahun 2015 menjadi 4949 per minggu," bebernya. Dipaparkannya, nantinya prioritas pengembangan rute Garuda yaitu penerbangan domestik

Selain itu, lanjut Elisa, frekuensi penerbangan internasional nantinya juga akan bertambah menjadi dua kali lipat pada tahun 2015. "Tahun 2010 ini penerbangan internasional Garuda, 338 frekuensi per minggu, ditargetkan penerbangan internasional 2015 Garuda akan melayani 871 frekuensi penerbangan per minggunya," paparnya.

Nantinya, ungkap dia, jaringan internasional dirancang untuk berintegrasi dengan jaringan domestik. "Saat ini, penetrasi pasar juga dilakukan melalui kerja sama komersial dengan maskapai Korean Air, Qatar Airways, China Airlines, Cina Southern, Malaysia Airlines, Philippine Airlines, dan Silk Air menjadi aliansi global, akan membantu menciptakan tambahan trafik sebesar 10 persen," bebernya.

Sehingga, tutur Elisa, dengan bergabungnya maskapai penerbangan terbesar di dalam negeri ini, akan berimplikasi postif, diantaranya ekspansi jaringan melalui jaringan tim aliansi, dan efisiensi biaya pembelian komponen pesawat dan fuel melalui jaringan Aliansi. "Serta jaringan pemasaran global dalam tim Aliansi," tukasnya.

Sementara itu, munculnya rumor yang beredar terkait kekacauan sistemoperasional dengan kisruh tersebut ada sangkut paut dengan rencana flag carrier Indonesia ini menjual sahamnya di lantai bursa. Saat dikonfirmasi, Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar buru-buru membantah. "Hal ini sama sekali tak ada kaitannya dengan IPO Garuda dan sampai saat ini semuanya berjalan sesuai rencana yang telah disusun," tegasnya.